Senin, 01 Maret 2021

Ojo Gumunan Koyo Kethek Melebu Kuto

Sudah dikatakan oleh nenek moyang sejak zaman dulu

Jangan suka merasa kagum pada apapun seperti seekor kera masuk ke sebuah kota

Tetapi apa daya kalau peringatan nenek moyang tidak lagi diingat 

Akhirnya terjadilah suatu petaka besar di negeri itu 


Seketika anak perempuan itu berubah menjadi monyet

Ketika ia memasuki pintu gerbang kota di hati pemuda itu

Hati yang megah penuh ide-ide dan gagasan 

Hati yang penuh dengan pembangkit listrik dan gunung-gunung bernama tanah jarang, sumber energi terbarukan yang menghasilkan energi sampai jutaan tahun lamanya tanpa harus ditambang dan dirusak

Tapi setelah berjingkrak-jingkrak kegirangan, dia belum juga paham akan jalan-jalan pikiran dan alam bawah sadar anak lelaki yang tidak sempurna itu hingga hatinya dipenuhi cemburu pada setiap monyet yang datang bergelantungan tak karuan ingin mendapat bagian dari panen raya di tengah kota

Seperti Sun Go Kong kepada istana khayangan, ia ingin memastikan bahwa dirinya paling sakti dan kuat, diobrak-abrik kota itu setelah lelaki itu memberi tahu pusaka kunci seluruh energi terbaru dan ruang-ruang gelap yang berisi lubang hitam yang pada masanya akan melahirkan bintang yang baru

Dan setelah puas bersenang-senang dengan kehancuran kota itu, diapun menyadari sebagian dirinya ikut hancur bersama kota yang tenggelam ke dasar samudra
Dia pikir kota itu sudah menjadi seperti kota-kota bawah laut yang hilang di masa Lemurian

Maka dia cari kota lain yang mungkin dapat dia tinggali sambil bersenang-senang mengenang kenangan akan cara menghancurkan kota yang hebat itu, suatu rasa puas karena telah menghabiskan seluruh kota untuk dirinya sendiri

Dari dalam palung samudra terdalam, kota itu mendoakan agar didapatinya satu kota terbaik di sepanjang hidupnya di mana ia tidak lagi berubah menjadi kera sakti, tetapi memenuhi takdirnya sebagai Sakti, yang melengkapi seribu candi, bagi lelaki yang tak mau kehilangan satu candipun yang belum selesai itu dalam waktu satu malam

Hingga suatu masa yang tak pernah lagi ada derita terjelma
Hingga suatu masa yang abadi bahagia
Hingga suatu masa silih asah silih asih silih asuh biasa
Hingga dunia keadaaban baru menjadi nyata

Dan Pusaka-Pusaka Kehidupan Kembali Ke Tempat Di Mana Mereka Sebelumnya Berada
Untuk menjaga keseimbangan dan kemanunggalan dengan jagad raya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar