Minggu, 28 Januari 2018

Argo Lawu Malam itu

Lagi,
Kereta melaju 
Seperti aku
Bergerak cepat menuju mimpimu

Itu kota Jogja 
Bermukim di dalam cahaya
Yang berkilau di bibirnya
Puisimu memberikan sejuta harap
Seperti kisah yang berakhir bahagia 


Selasa, 23 Januari 2018

sajak pohon

Saat aku masih benih
Dibawa angin dan air hujan 
Mengendap dalam lembab
Merindukan cahaya matahari

Akar-akarku tumbuh menembus kulit 
Mencari celah di tanah mencari air
Tunasku tumbuh mengikuti getaran
Terus naik mencari cahaya yang hangat

Daun-daun tumbuh dan memasak nutrisi bagi batangku
Membuatku semakin besar dan kokoh
Kuncup bunga berseri-seri bermekaran
Hingga kelopak-kelopak berjatuhan

Makhluk-makhluk berteduh dan bermain di bawahku
Mencari sejuk dan buah-buahan
Semua tanpa bayar
Gratis manis seluas hutan hujan tropis

Hingga akhirnya mereka meminta batangku
Bahkan akarkupun diangkat dari dalam tanah
Aku memberikannya dengan sukacita
Karena aku tahu ada kehidupan setelah kematian

Beberapa bulan kemudian aku seperti terbangun dari tidurku
Sebagian diriku menjadi perahu
Sebagian lagi menjadi rumah berpintu
Dan yang lainnya menjadi buku

Tak heran jika manusia Nusantara menyebutku pohon
Bunyinya sangat dekat dengan bunyi kata memohon
Dahulu mereka pernah menganggapku sebagai sumber kehidupan
Tempatnya memanjatkan doa dan bertapa
Aku dianggap suci karena selalu memberi dan tak pernah berharap kembali

Tak heran kalau aku dicintai
Dijaga dan dipelihara 
Karena bersamaku, manusia menaklukkan lautan dan menemukan daratan
Bersamaku manusia berlindung, membangun rumah tangga dan meneruskan keturunan
Bersamaku manusia menemukan pencerahan
Bersamaku manusia mencatat ingatan, pengetahuan, dan bangunan peradaban

Aku pohon
Selalu gembira dan bahagia
Menjadi bagian dari dunia
Membantu manusia mencapai puncak evolusinya

Minggu, 21 Januari 2018

Nusantara, Bumi yang Baru

Suatu ketika saat Nusantara dipulihkan seutuhnya
Ratu adil memimpin dunia
Tak ada lagi yang kelaparan ataupun ketakutan
Ugahari dan waskita
Manusia tidak menghabiskan waktunya untuk makan dan berpesta

Saat Nusantara dipulihkan
Ilmu-ilmu dunia kembali ke kodratnya
Manusia menjadi utuh dan saling menjaga
Bersatu memangku bumi dan alam semesta

Tata Salira
Tata Krama
Tata Negari
Tata Buwana
Tata Surya
Tata ing Jagad Alam Sak Wegung
Jadi jalan kehidupan
Perjalanan dari dalam batin
Menuju ke sejatinya hidup yang utuh

Suatu ketika saat Nusantara dipulihkan
Segala penyakit dunia disembuhkan
Yang berperang akan meninggalkan senjata mereka di tempat peleburan
Dijadikan mata bajak dan baling-baling pembangkit energi terbarukan
Sepatu-sepatu yang berderap-derap akan dibagi-bagi untuk melindungi kaki-kaki yang terlemah dan tersingkir

Orang akan saling mengenyangkan dan berbagi kegembiraan
Saling mendoakan dan saling mendukung 

Suatu saat ketika Nusantara dipulihkan
Lautan menjadi energi yang tak akan habis memberi kehidupan bagi yang menjelajah luar angkasa dan yang menjaga bumi di bawah langit dan bulan purnama

Suatu saat planet-planet itu menjadi begitu dekat dan mudah untuk dikunjungi
Seperti kedipan mata, putaran cahaya, dan perpindahan energi dari satu bentuk ke bentuk lainnya

Yang kotor dibersihkan, yang bersih dimurnikan, yang murni dinikmati dan dimiliki kebanyakan orang 

Orang tidak lagi hidup dari karbohidrat dan oksigen, tetapi dari sinar matahari dan api 

Umur manusia menjadi ribuan tahun
Pernikahan menjadi sesuatu yang sakral dan jarang dirayakan dengan mewah-mewahan karena pernikahan itu sendiri sudah mewah dengan adanya

Saat Nusantara dipulihkan, jadilah Kerajaan Tuhan di bumi seperti di dalam surga

Sabtu, 13 Januari 2018

Gempa Rindu

Pada indahnya pagi
Kubacakan puisi ini
Yang selalu kusimpan
Pada satu putaran bumi
Mengelilingi matahari

Ini hati kujaga untuk cahaya yang satu
Yang terganggu dan inginkan jarak 
Aku telah pergi menjauh
Lebih dari batas cakrawala
Suaraku tak akan lagi terdengar
Kecuali dengan sengaja puisi ini dibaca dan menjadi suara yang bergema

Masih seperti hari-hari sebelumnya,
gempa rindu dan hujan badai sembilu
Panas di dada saat mengingat senja
Lalu tanganku meraba-raba dalam gelap
Mencoba merancang kembali pesawatku yang kemarin sempat jatuh berantakan di lautan perasaan yang diterjang badai
Kurangkai syukur menjadi karangan bunga
Satu persatu kuletakkan di setiap tonggak yang menancap dalam peta buta

Hidup hanya sekali, sudah kulakukan dengan gaspol di jalan sepi
manuverku pada jalan bolong dan sempal-sempal
Sampai kulihat Matahari baru bersinar terang memuaskan jiwa
Pasir diterjang ombak melewati kaki
Menyeret kenangan ke dalam laut 
Dan kedua kakiku tak tergoyahkan
Gempa rindu itu mengendap tenang
Menjadi doa syukur dan sukacita melampaui nyanyian cinta 

Terimakasih malaikatku
Yang mengajarkan caranya terbang
melintasi area yang tak kukenal
menuju tempat terbaik yang damai
air gunung yang melimpah
Udara pagi dingin dan langit yang cerah


Sabtu, 06 Januari 2018

Dari Cirebon Menuju Jogja

Sudah, sudah jauh Alin melaju
Gas kecil gas besar tarik selalu
Gas pol lagi, di saat sepi
Berkobar-kobar hati bagaikan api

Seberang rel kereta, Alin lewati
Ajibarang Purwokerto Gombong terus ke Kebumen tanpa berhenti
Lewati jalan tembus langsung ke Jogja
Lalu berhenti ngopi di angkringannya

Malam di jogja 
tak pernah mati tak pernah sepi
Puisi beterbangan memenuhi
Jalanan dari laut ke Merapi

Angin pantura dalam figura
Kenangan siang panjang membentang
Di langit fajar hati gembira
Melihat kota itu di depan mata


Selasa, 02 Januari 2018

Memulih Kemanusiaan

Merenungkan pengalamanmu, akupun membaca pengalamanku
Manusia selalu mencari jubahnya
Tidak seperti hewan dan tumbuhan
Tidak seperti air dan udara
Tidak seperti tanah, api, dan angin

Jubah itu berisikan serangkaian pengalaman, nilai-nilai, dan semangat yang menjadikan manusia berbeda dari segala ciptaan lainnya

Seperti jaket kulit bagi para pengendara sepeda motor
Seperti baju dinas bagi para pegawai lapangan
Dibuat berdasarkan fungsinya

Tetapi malam tak pernah tinggal diam
Dia selalu menuangkan perekat pada material ke dalam jiwa manusia yang merdeka
Sehingga Indra selalu menangkap makna kata, bentuk, dan baunya

Manusia lebih suka menilai jubah manusia lainnya dari dalam jubahnya sendiri
Mengukur perjalanan orang lain dari perjalanannya sendiri
Dan mengkorupsi definisi

Betapa beruntungnya orang-orang yang memilih memakai jubah cahaya
Melihat semua di sekitarnya dengan terang dan penuh cinta
Lalu melakukan sesuatu untuk kebaikan

Betapa berdukanya orang-orang yang tak menyadari jubahnya
Sampai akhirnya itu membuat hatinya bersedih dan miris melihat kemanusiaan lain di luar jubahnya

Manifestasi kemanusiaan kita bukanlah kompetisi yang berlomba adu cepat, adu kuat, adu kaya, adu indah, dan adu-adu yang lainnya seperti yang terjadi di televisi dan perlombaan 

Kita sedang menjalani hidup kita masing-masing
Memakai jubah masing-masing
Dan kebetulan bertemu dengan yang lain

Betapa beruntungnya kita bertemu yang lain
Betapa bahagianya kita mengenal mereka
Memahami dan menerima, lalu memetik nilai-nilai untuk melengkapi jubah yang bolong-bolong

Tidaklah perlu menghabiskan waktu untuk menjadi berbeda dari yang lain
Karena setiap kemanusiaan unik sejak pertama dilahirkan

Habiskanlah waktu untuk membaca, berkarya, dan melakukan perjalanan
Karena dalam ketiga hal itu kemanusiaan dipulihkan