Selasa, 15 Juli 2025

“Aku Membuka Ruang”

16 Juli 2025

Aku tidak lagi menunggu di balik tirai kabut

atau duduk di pinggir mata air untuk berdoa 

ketulusan yang hanya kau dengar dari kejauhan.


Kini aku membuka pintu,

dan membiarkan angin sore masuk tanpa syarat,

membawa debu, daun gugur,

dan mungkin kabar tentangmu.


Aku tidak lagi melukis wajahmu dengan cahaya sempurna,

sebab aku tahu, cinta bukan tentang kesempurnaan

tapi membiarkan diri saling hadir 

dengan segala keberanian dan kekurangan.


Di meja kayu yang sederhana,

aku letakkan dua cangkir dan sepasang donat

secangkir kuisi kopi, dan cangkirmu kau isi jus jeruk

tempat ini cukup hangat untuk kita duduk dan mulai.


Aku tidak memintamu datang sebagai penyelamat,

tidak juga sebagai jawaban dari segala doa,

tapi sebagai jiwa yang bersedia bertumbuh bersama

dalam tawa, ragu, dan percakapan tanpa naskah.


Mungkin kau bukan perempuan dari gambar

yang dulu kupahat dalam hening.

Tapi jika kau bersedia hadir dan menyalakan satu pelita,

maka terangmu akan kuterima,

bukan sebagai penyempurna,

tapi sebagai teman menuju cahaya Kristus.


Jadi datang atau tidak,

aku tetap akan membuka ruang.

Sebab cinta tentang mempersilakan seseorang

lalu silih asah, silih asih, silih asuh

saling menghadirkan Yesus yang sungguh

“Kepada Perempuan yang Makan Donat dan Minum Kopi dalam Heningku”

 


Di ujung langit yang belum kusebut namamu,
aku meletakkan hati seperti kendi kosong
menadah embun pagi dari rahim semesta.

Wahai engkau yang kusebut bukan karena aku tahu,
tapi karena aku percaya:
ada jiwa yang ditiup dari arah yang sama
saat kami dilahirkan terpisah.

Aku tak meminta kau datang dengan gemerincing cahaya,
tapi dengan langkah perlahan
menapak tanah luka dan pengharapan.

Datanglah,
bukan karena aku telah sempurna,
tapi karena engkau tak takut pada ketidaksempurnaanku.

Bukan untuk mengisi kekosonganku,
tapi untuk berbagi limpahan yang sejak lama
dipelihara dalam cawan rahasia.

Mari kita duduk,
saling memandang seperti air kepada langit
seperti langit kepada air.

Aku menyebutmu, di heningku,
di lorong batinku yang sunyi
tempat Semar berdiri di tengah rawa,
tempat Keong Mas menembang mantram

Jika engkau mendengarku,
jika hatimu bergetar saat daun jatuh tanpa suara,
jika jiwamu menoleh saat matahari menengok ke barat
dan berkata: “Sudah saatnya...”

Maka datanglah.
Aku menunggumu,
tidak di puncak menara,
tapi di bawah pohon Bodhi,
di tepi mata air tempat bunga lili air mekar 
bercerita tentang akar dan cahaya

silih asah silih asih silih asuh.