16 Juli 2025
Aku tidak lagi menunggu di balik tirai kabut
atau duduk di pinggir mata air untuk berdoa
ketulusan yang hanya kau dengar dari kejauhan.
Kini aku membuka pintu,
dan membiarkan angin sore masuk tanpa syarat,
membawa debu, daun gugur,
dan mungkin kabar tentangmu.
Aku tidak lagi melukis wajahmu dengan cahaya sempurna,
sebab aku tahu, cinta bukan tentang kesempurnaan
tapi membiarkan diri saling hadir
dengan segala keberanian dan kekurangan.
Di meja kayu yang sederhana,
aku letakkan dua cangkir dan sepasang donat
secangkir kuisi kopi, dan cangkirmu kau isi jus jeruk
tempat ini cukup hangat untuk kita duduk dan mulai.
Aku tidak memintamu datang sebagai penyelamat,
tidak juga sebagai jawaban dari segala doa,
tapi sebagai jiwa yang bersedia bertumbuh bersama
dalam tawa, ragu, dan percakapan tanpa naskah.
Mungkin kau bukan perempuan dari gambar
yang dulu kupahat dalam hening.
Tapi jika kau bersedia hadir dan menyalakan satu pelita,
maka terangmu akan kuterima,
bukan sebagai penyempurna,
tapi sebagai teman menuju cahaya Kristus.
Jadi datang atau tidak,
aku tetap akan membuka ruang.
Sebab cinta tentang mempersilakan seseorang
lalu silih asah, silih asih, silih asuh
saling menghadirkan Yesus yang sungguh