Minggu, 11 Maret 2018

Kisah Pohon-Pohon Raksasa

Dahulu kala, hiduplah pohon-pohon raksasa di seluruh dunia
Batangnya menyembul sampai ke ujung angkasa
Buahnya besar dan manis
Akar-akarnya menyerap air hingga danau-danau tercipta 

Di batang-batang pohon itu hiduplah manusia
Di batang-batang pohon itu hiduplah hewan-hewan yang menjadi sahabat-sahabat manusia 
Mereka hidup tumbuh dan besar dari buah-buahan pohon itu. 
Tempat berlindung dari raksasa dan hewan-hewan besar yang melata di mana-mana

Manusia selalu bermimpi tentang lautan yang dilihatnya dari pucuk pohon itu
Tentang daratan-daratan di pulau seberang
Tentang cahaya yang berkilau di angkasa
Dan tentang hewan-hewan, berbagai buah dan sayuran lain yang hanya dapat dipandangi dari pucuk-pucuk pohon itu

Pohon ada sahabat yang setia dan memberi hidup
Jadi wajar saja kalau mereka membuat berbagai ritual untuk menghormatinya

Tentang Keabadian

Pemuda itu tak pernah peduli pada rasa
Dia adalah pemuda yang bebas
Tak ada ikatan apapun selain dengan keluarganya
Suatu ikatan yang kadang diragukannya

Pemuda itu yang selalu menulis puisi dan sambil berziarah melewati banyak pengalaman tentang rasa
Tetapi hanya satu yang tinggal dan tetap, suatu keinginan untuk memberi, membantu, dan menjadi bagian dari dunia yang baru
Pemuda itu sudah menunjukkan sebisa-bisanya sebatas pemahamannya
Dia berharap bahwa itu sudah cukup 

Kali ini dia berkata pada dirinya sendiri
Bahwa sebesar apapun keinginannya bertemu dan hidup bersama dengan pemudi yang dikaguminya itu, tak akan pernah mengubah apapun dari masa lalu tapi pasti masa depan

Hidupnya hanya untuk keluarga 
Sedangkan pertemuan adalah perjodohan yang diatur oleh Tuhan, dan yang terbesar dari semuanya adalah ingin yang menjadi kenyataan karena di dalamnya terdapat perjuangan, derita, airmata, dan mungkin juga mati sia-sia untuk menyatakan kata yang disebut Cinta

Dan itulah keabadian bagi pemuda itu
Yang terbaik yang dapat dia berikan pada pemudi yang dihormati dan diinginkannya menjadi sahabat perjalanannya menuju dunia baru

Penyair berkata, apa artinya cinta-cinta berikutnya apabila cinta pertama tak ada artinya? 
Pemuda itu berkata, "Cinta tak meminta arti apapun. Dia ada dan terus menyala dalam keadaan apapun bahkan dalam ketiadaan arti dan makna, dalam gulita yang paling pekat, dalam malam yang paling asing, dalam sunyi yang paling rimba, dan dalam perjurit yang paling berjaga."

Pemuda melakukan itu lagi dan lagi sampai akhirnya pemudi yang gemar menanam itu kaget melihat apa yang telah ia tanam di dalam pemuda itu menjadi pohon yang paling besar dan gagah bagi sang pemuda tetapi bagi pemudi itu hanyalah kecambah tauge yang tak terlihat olehnya, diinjaknya, dan dilaluinya begitu saja.

Ya begitu saja

Jadi baiknya kita tebang saja pohon besar itu
Kita cabut akar-akarnya
Kita potong-potong dan kita jadikan kayu api
Dan kita dapat saja bernyanyi sampai dini hari tentang kisah pemuda dan pemudi yang  hidupnya bahagia selamanya karena dicintai oleh semesta yang diziarahi dan ditanam di area paling suci bagi mereka
Area itu disebut kenangan 
Area itu disebut keabadian 

Pemuda itu adalah pemuda yang bebas
Dia tak pernah peduli pada rasa
Tapi kali ini rasa itu lebih peduli padanya  dan ikatan hanya menjadi awan-awan menggantung di angkasa
Sebentar lagi hujan

🌧🌧🌧🌧🌧🌧🌧🌧🌧🌧🌧🌧🌧⛈⛈⛈⛈⛈⛈⛈⛈⛈⛈⛈⛈⛈🌩🌩🌩🌩🌩🌩🌩🌩🌩🌩🌩🌩🌩🌨🌨🌨🌨🌨🌨🌨🌨🌨🌨🌨🌨🌨☔️☔️☔️☔️🚵🏼☔️☔️☔️☔️☔️☔️☔️☔️☔️



Sabtu, 03 Maret 2018

Malam Cahaya Kota

Aspal hitam
Lampu kota
Pemuda berkendara
Dan musik yang didengarkannya

Pemudi itu masih ada di hatinya
Tetapi dirinya sendiri tidak masuk dalam hitungan langkah kaki gadis itu
Semua pemudi mengira semua pemuda hanya menginginkan segala hal yang fisik
Pemuda di atas sepeda motor itu lebih suka berziarah, membaca, dan berdoa

Pemuda berkendara sendiri
Lalu beton-beton pembatas jalan mengejeknya
Truk dan bahkan sandal jepit ikut mengejeknya
Hanya sepeda motor menemani ke manapun ia pergi

Ini malam minggu dan pemudi itu ada di dalam pikirannya
Tiang listrik yang ia lewati mengira pemuda itu sendiri
Tetapi angkasa tau siapa dan kemana sepeda motor dan pemuda itu melaju

Aspal hitam
Lampu kota
Pemuda berkendara
Dan pemudi itu selalu ada di dalam hatinya

Dalam jiwa berteriak suara
Pergilah sepuasmu saat masih lajang
Sebab ketika sudah beristri
Baru pergi ke Angkringan sebentar saja sudah dipanggil-panggil suruh pulang