Rabu, 23 Desember 2020

Keabadian

Baiklah sayangku

udara mengembang semburat cahaya terang

aku tidak tenggelam di samudra

melainkan sejuk angin setelah hujan

penuhi ruangan penuhi 

bayanganmu yang telah kukemas rapi dalam doa

kau diliputi cahaya keemasan

dan aku bersyukur kepada Tuhan

kuhirup udara dan penuhi seluruh selku dengan berkat

perjalanan panjang jadi pusaka arah tujuan

dunia baru yang semakin nyata di hadapan mata

Dia yang paling dikasihi

kau dan juga aku 

kita saling memandang dengan senyuman

ruang dan waktu mengkerut 

daun-daun berguguran menjadi begitu lambat

baiklah sayangku

memang harus seperti inilah kita

memasuki gua kosong dengan jerami dan domba-domba 

gembala membakar kayu api

cahaya sama cahaya

bertemu dalam ruang-ruang keabadian

yang hanya Tuhan, kau dan aku yang tahu 

Kupastikan jalan ini, kupastikan bahagiamu

pohon-pohon di hutan menjadi cahaya

samudra indah menyala

langit bersih seperti hatimu

wajahmu dilukis malaikat di galeri panjang kasih kerahiman Tuhan

Minggu, 13 Desember 2020

Patah?

Jika tanganmu sudah tak pernah lagi bertindak sebagai pematah ranting
Atau jari-jarimu tak pernah kaugenggamkan pada raket nyamuk yang mengayun dan menyala pletak pletak trak tak tak
Maka kau akan tahu artinya bertahan hidup dalam kasih
Di dalam diri orang yang kau bilang patah hati itu ada kasih yang besar yang tak ingin patah, dia kuat dan megah, dan terus berusaha mencari ruang yang mau menerimanya
Dia bertahan hidup dan mengalir seperti air di sungai dan tak pernah padam seperti api di kawah Ijen karena menyendiri adalah sehari-hari dan refleksi adalah nafas untuk hidup, seperti juga makan 2 atau 3 kali sehari, cara menghidupi hidup dan memberi arti sebelum akhirnya mati

Kalau tidak ada juga yang mau?
Jalan terus saja, hidup bukan tentang khawatir, 
Semua sudah ada rejekinya masing-masing
Rejeki itu diminta dalam doa dan dicari dengan semangat

Mungkin ada yang belum bisa menerima orang lain apa adanya sehingga ukuran-ukuran dirinya yang berbeda itu ingin disematkan pada siapa saja, seperti tukang permak memasang logo Greenday di celana jins yang sobek-sobek
Keren sih
Tapi ya
Gitudeh

Matahari Baru

Kau dan Aku sama-sama meninggalkan monster-monster kita 
di kota itu malam itu
Pesta Nama Santo Laurensius seperti menjamin perjalanan panjang 
menuju dan pulang puncak Gunung Gede 
Gas Gas Gas melaju yakin di atas dua roda
Ini cara yang luar biasa berbeda 

Kau tahu kita sedang ingin menanjak menuju ketinggian
saat yang begitu dekat dengan Tuhan
Kau tahu, begitu damai hati kita
Begitu lebar senyuman 
Dan Jarak pandang kita menjadi begitu dekat

Kau tak dapat menyembunyikan perasaanmu, 
mataku tertuju kepadamu

Hujan deras membuat kita berteduh di warung kopi yang sudah tutup pagi itu
Kau dan aku sama termangu, 
kita lelah dan sendu lalu tertidur di bawah atapnya

Aku terjaga
Sekadar memastikan kau tertidur nyenyak di selimuti sejuk angin pagi

Satu jam saja
Seperti beberapa jam lalu 
Aku memastikan keadaanmu,
menjagamu naik dan turun di hutan gunung Putri itu

Akhirnya kita kembali ke kota
Kembali menjadi asing satu sama lain
Bermain lagi dengan monster-monster yang kemarin kita lupakan 

Tapi bagiku ada satu yang berbeda
Bahwa senyummu di puncak Gunung kemarin 
adalah matahari baru yang terbit bersama Sang Surya 
pagi itu, ku tahu, kau pasti tahu, 
bahwa sejelek apapun dunia memandang dan memperlakukan kita di kota, 
keindahan sejati tak akan pernah sia-sia 
tiada berkurang artinya di alam raya
saat kita memandanginya dari ketinggian, 
dari tempat yang membuat kita merasa 
begitu dekat dengan Tuhan

Biarkan Greenday membualmu dengan lagu tentang mimpi yang hancur lebur, 
aku akan tetap bernyanyi lagu Matahari Baru 
seperti kau dan aku tak pernah berlalu, 
seperti kita selalu ada di ketinggian 
dan berbagi pandang dengan senyuman

God bless you
My dear
Semangat Berjuang
Dan Jangan Biarkan Dunia menenggelamkanmu
Karena Matahari Baru adalah milik kita 
di dunia terang kita bergerak maju 
menembusi batas-batas cahaya

Matahari pagi di Puncak Gunung Gede