Selasa, 26 Desember 2017

Misteri Natal

Lihatlah ke dalam tempat itu
Kemuliaan bersinar dari bayi 
Musik jangkrik dan suara ternak

Betapa mudahnya merindukan suasana itu
Betapa kuatnya suasana itu
Selalu dikenangkan sampai ribuan tahun setelahnya

Kesederhanaan yang penuh sukacita
Kelembutan yang penuh dengan kasih
Pelukan ibu dan siap siaga bapak

Bertambah pula sukacita
Saat gembala sekawan datang 
Penuh takjub dan sujud

Serta para majus berikutnya
Yang membawa sesembahan
Dan kekaguman tak terkira

Adalah misteri malam itu
Saat bayi pulas tertidur
Dan kehangatan di dada setiap orang

Begitu penuh
Begitu menyatu
Begitu utuh

Semua dapat ditempuh

Minggu, 17 Desember 2017

Sepadan

Ini matahari paling sepadan memandang ke dalam diri
Pada berapa banyak putaran bumi 
Pada berapa banyak putaran rembulan
Pada waktu yang telah dilalui olehnya

Seperti itulah matahari memandang dirinya
Seperti itulah rembulan mengenal dirinya
Suatu yang paling sepadan ada pada dirinya sendiri

Perjalanan dari bumi ke matahari
Melewati Venus dan Merkurius ia berlari
Suatu langkah yang satu persatu ditapaki 

Hanya matahari yang paling memahami cahaya pagi menuju senja
Hanya rembulan yang paling memahami artinya memantulkan cahaya matahari untuk bumi di malam-malam penuh puisi
Hanya bumi yang paling mengerti artinya rotasi dan berevolusi mengelilingi matahari

Memahami dan menerima dirinya
Lalu memberi dari apa yang dimiliki
Tanpa pernah cemas akan artinya kehilangan 
Sampai kata kehilangan tak lagi berbeda dengan kerelaannya memberi

Sepadan
Semua akan kembali
Kepada siapa mereka
Dan dari mana mereka berasal

Kamis, 07 Desember 2017

Disambar Desember

Langit bulan Desember penuh awan
Udara di kepala dibawa raja kelana 
Liburan belum tiba
Tapi group-group Keluarga sudah ramai dengan berita

Pohon disambar angin cempaka
Pada tari katak di sawah dan kota
Gunung-gunung basah
Mengalir sampai pusat kota


Minggu, 12 November 2017

Perjalanan

Sebelum sampai di tempat tujuan
Pandangan ke depan
Mengikuti rencana
Mengatur strategi

Sesudah sampai di tujuan
Kembali membuka peta
Belajar dari pengalaman
Dan menyiapkan perjalanan berikutnya

Yang tak terbawa harus ditinggalkan
Cari cara lain, atau temukan substitusi
Bersiap untuk kejutan
Dan nikmati pertumbuhan

Orang bisa menghabiskan waktunya untuk membaca buku
Tetapi jika tidak melakukan perjalanan, pengetahuan hanya tinggal angan-angan
Kenyataan ada saat mengalami proses

perjalanan

Minggu, 05 November 2017

Ajarane Simbah-Simbahku

Semua adalah tamuku
Jadi aku harus belajar semua
Supaya bisa mengerti cara memperlakukan semua dengan baik

Ojo gumunan
Karena semua manusia itu sama manusianya
Semua itu biasa

Aku kudu manut ajaran simbah-simbahku
Menika ajaran katresnan
Andhap asor, Welas asih

Matur nuwun
benih bunyi
Sindana




Sabtu, 28 Oktober 2017

Sumpah Pemuda Nusantara

Bagi Ibu Pertiwi Nusantara Indonesia
AKU bersumpah! Selalu bergerak, melewati susah senangnya hidup di tanah air dengan mencipta karya dan menebalkan asa akan hadirnya Satria yakni Yang Maha Esa dalam setiap helai nafas dan derap langkahnya kaki menuju Indonesia Baru, Dunia Baru yang penuh Welas asih, cinta alam, dalam semangat beriman yang militan ke sudut-sudut terjauh jagad raya.

Bagi Nafas di Nusantara Indonesia Aku bersumpah! Selalu mempersiapkan segala sesuatu, bersinergi dengan sesama, memberi tenaga, daya pikir, dan olah rasa, demi mewujudkan suatu tatanan Masyarakat yang bergotong royong menuju keheibatan Nusantara Jaya Mahe yang selamanya dan abadi!

Bagi Wicara di seluruh Nusantara Indonesia aku bersumpah! Setia menuliskan keindahan dan keheibatan bangsa Nusantara dalam bahasa yang dijunjung tinggi di atas kepala, turut serta menyerap kosa kata khusus dan mutahir dari seluruh bahasa di dunia seraya memperkenalkan kekayaan kosa kata Nusantara ke seluruh penjuru bumi, hingga suatu saat bahasa Indonesia menjadi bahasa yang Munir dan Rendra, yang Kartini dan Ki Hajar Dewantara, yang Sukarno dan Hatta, dan yang digunakan di seluruh dunia! 

Merdeka! 

Sabtu, 07 Oktober 2017

Motor Bandel! 🏍🇲🇨

Gas pol!
Mimpi ke mimpi
Sepeda Motorku melaju
Melewati empat musim
Dan tak pernah turun mesin

Gas Pol!
Ini oli baru diganti
Oh kota-kota berikutnya menanti
Dari hutan ke kota
Kembali membawa hasil bumi

Gas Puool!
Jalanan kosong
Tengah malam
Cahaya menabraki pekat malam
Bintang-bintang bersinar terang

Gas Puooll!
Awas tikungan, 
Tarik kopling turunkan gigi
Perkuat lengan dan siapkan rem kaki
Waspada dan hati-hati 

Di depan sana ada Warung kopi
Berhenti sebentar, rebahkan badan,
Selonjoran kaki pada jarak 33 Km dari tempat pertama ia menapak ibu bumi
Selalu padanya dari ujung rambut sampai ujung kaki akhirnya kembali

Ini pagi sudah larut
Mie instan pakai telur
Lalu buat puisi
Teringat cerita itu lagi
Sebelum bersiap untuk gas pol berikutnya

Dari mimpi ke mimpi
Sepeda motorku melintas 
Melewati empat musim
Bandel mesin takterbatas

Jumat, 18 Agustus 2017

100.000 Tahun

Leluhurku telah hidup di tanah ini sejak lebih dari 100.000 tahun yang lalu
Sejak mereka berkelana di sungai dan ngarai
Membuat senjata dari batu dan tulang
Membuat dolmen dan sarkofagus
Membuat Nekara dan kapak perunggu hingga candi dan keraton dari batu
Membentuk peradaban kota di puncak-puncak bukit sampai ke teluk dan seberang laut
Memelihara hewan-hewan liar dan menanam tumbuh-tumbuhan
Menciptakan bebunyian dari dinding gua, bulir bambu, hingga dawai dari akar dan bulu ekor kuda
Serat, kulit, dan akar pohon diolahnya  menjadi bahan pakaian bersahaja dan berwibawa
Sarang lebah dan getah jadi lukisan di dinding gua, tubuh, rumah, sampai batik dan tembok istana

Nenek moyangku menerima setiap orang yang datang dengan keramahan
Berbagi senyum dan cerita sudah biasa, berbagi hasil buruan hingga pertanian
Sumber air yang melimpah membuat lidah kami lanyah menggunakan berbagai bahasa

Nenek moyangku dari laut hingga pegunungan adalah masyarkat yang berpadu saling bertukar pengetahuan mengawetkan makanan, menggunakan rempah-rempah sebagai obat-obatan, dan memakan berbagai sayuran dan buah-buahan

Nenek moyangku tak mau membeda-bedakan, semua yang hidup dari tanah, air, dan udara yang satu adalah saudara karena itu berarti kita menyusu dari satu ibu yang sama

Nenek moyangku terbiasa makan bersama, tak boleh ada satupun yang lapar dan tak kebagian makanan

Nenek moyangku terbiasa saling tolong menolong, 
sudah biasa menolong yang tua, yang sakit, yang kena musibah, yang bayi dan kanak-kanak, yang kekurangan, dan yang punya gawai membuat rumah

Nenek moyangku tak mau menggunakan barang-barang secara berlebihan
Karena semua yang berlebihan itu tidak baik

Nenek moyangku ramah dan berbudi pekerti karena sudah terbiasa berkomunikasi dengan berbagai bangsa, membaca bahasa alam, dan melihat berbagai keajaiban

Nenek moyangku, aku menghormatimu
Terimakasih atas ribuan cinta yang kau ciptakan sehingga kini aku terlahir untuk mencintai semesta dan sesama

Nenek moyangku, ajari aku caranya mencintai, menghormati, dan mengenali bahasa alam semesta yang menjadi ibu semua makhluk dan ibuku juga

Kamis, 15 Juni 2017

Sangrong

Suara angin berhembus menabraki padi
Sawah jadi serupa orkestra bersimfoni

Dari mataair yang tak berhenti mengalir
Bukit-bukit penuh kopi, alpukat, dan lada
Coklat melonjak-lonjak berjatuhan dari rantingnya
Berlari ke arahku dengan bahagia

Ular sawah lewat di bawah kakiku
Sedangkan Babi hutan sesekali datang ke pinggiran sawah memakan umbi ungu yang kutanam untuk mereka
Beruk dan beruang sering mampir pabila kulupa memanen nangka dan durian
Mereka juga suka pisang yang kutanam di utara, janten dan uli bersebrang-sebrangan

Lomba lari dari ujung sawah ke puncak bukit 
Lalu buang kail ke kali dan memanen ikan yang tak pernah dipelihara dan entah darimana pula datangnya
Ditutup dengan jeguran sampai badan bersih lagi

Suara angin berhembus menabraki padi
Suara api gemletak menghangatkan gubuk kecil ini

Senin, 22 Mei 2017

Benteng Kota Kedamaian

kepada bapak

Kokoh nian lenganmu
Emas serupa damaimu
Nan elok pada senja
Cahaya berpendar di keningmu

Di sinar itu aku berkaca
Kedamaian yang kuburu
Berkejaran dengan waktu
Di setiap jajanan di warungmu

Di tumit kakimu yang retak-retak itu
Aku bersujud barang sejurus ke timur
Pada waktu yang abadi kemudian
Gerobak minyak yang pernah kau tarik

Pada keringat dan doamu itu
Aku berkaca di setiap jalan menanjak
Minyak yang kocrat dari jerigen ke sirah
Kau ingin aku jadi manusia yang tidak lupa

pada nasib bumi
pada nasib anak cucu
serta seluruh isi bumi
di tangan doa dan karya

Pada telapak tanganmu yang kapalan
Kuletakkan wajahku kembali
Rasa dan rasio detang waktu
Gelap malam dan bintang-bintang
Bercahaya pada pancaran fajarmu



Sabtu, 20 Mei 2017

Tanah Suci

Apa yang kau pahami dari tanah sucimu?
Tempat kakimu berpijak
Tempat akarmu tumbuh
Tempat yang kau hormati

Pulanglah dan lepaskanlah sandalmu
Sujudlah dan cium tanah itu
Tanah paling suci dalam sejarah hidupmu
Tempat segalamu diciptakan pada mulanya

Wujud paling nyata dari Muzizat Surgawi
Yang hanya memberi
Tanpa harap kembali
Dari sana kehidupan dimulai

Berbaktilah dan kembalilah
Rebahkan tubuhmu dan lihatlah
Betapa tak berdaya dirimu tanpa tanah itu
Betapa mulianya hati seorang ibu

Sabtu, 11 Februari 2017

Reading of the reading


So what is more than the goodness of reading?
Reading is not only see the words and relate its meaning.
Reading is not only a short time understanding and makes a judgement
For we are now going to be a wiser human
Make questions would be the next action
And collect answers of it.

ask the writers what ideas of their words...
It also part of the reading of the context of the text.
even their clothes, their situations, their bodies' condition
their education may be, their foods, their social activities, and their habits of writing are parts of the texts.

So what is more than the goodness of reading?
The sky, the heaven?
the earth, the eruption?

the outer space, the lights of the dawn
the writings and the flaw

the poetry and its river
the mind and its writer?

11/2/2017