Selasa, 23 Januari 2018

sajak pohon

Saat aku masih benih
Dibawa angin dan air hujan 
Mengendap dalam lembab
Merindukan cahaya matahari

Akar-akarku tumbuh menembus kulit 
Mencari celah di tanah mencari air
Tunasku tumbuh mengikuti getaran
Terus naik mencari cahaya yang hangat

Daun-daun tumbuh dan memasak nutrisi bagi batangku
Membuatku semakin besar dan kokoh
Kuncup bunga berseri-seri bermekaran
Hingga kelopak-kelopak berjatuhan

Makhluk-makhluk berteduh dan bermain di bawahku
Mencari sejuk dan buah-buahan
Semua tanpa bayar
Gratis manis seluas hutan hujan tropis

Hingga akhirnya mereka meminta batangku
Bahkan akarkupun diangkat dari dalam tanah
Aku memberikannya dengan sukacita
Karena aku tahu ada kehidupan setelah kematian

Beberapa bulan kemudian aku seperti terbangun dari tidurku
Sebagian diriku menjadi perahu
Sebagian lagi menjadi rumah berpintu
Dan yang lainnya menjadi buku

Tak heran jika manusia Nusantara menyebutku pohon
Bunyinya sangat dekat dengan bunyi kata memohon
Dahulu mereka pernah menganggapku sebagai sumber kehidupan
Tempatnya memanjatkan doa dan bertapa
Aku dianggap suci karena selalu memberi dan tak pernah berharap kembali

Tak heran kalau aku dicintai
Dijaga dan dipelihara 
Karena bersamaku, manusia menaklukkan lautan dan menemukan daratan
Bersamaku manusia berlindung, membangun rumah tangga dan meneruskan keturunan
Bersamaku manusia menemukan pencerahan
Bersamaku manusia mencatat ingatan, pengetahuan, dan bangunan peradaban

Aku pohon
Selalu gembira dan bahagia
Menjadi bagian dari dunia
Membantu manusia mencapai puncak evolusinya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar