Kubacakan puisi ini
Yang selalu kusimpan
Pada satu putaran bumi
Mengelilingi matahari
Ini hati kujaga untuk cahaya yang satu
Yang terganggu dan inginkan jarak
Aku telah pergi menjauh
Lebih dari batas cakrawala
Suaraku tak akan lagi terdengar
Kecuali dengan sengaja puisi ini dibaca dan menjadi suara yang bergema
Masih seperti hari-hari sebelumnya,
gempa rindu dan hujan badai sembilu
Panas di dada saat mengingat senja
Lalu tanganku meraba-raba dalam gelap
Mencoba merancang kembali pesawatku yang kemarin sempat jatuh berantakan di lautan perasaan yang diterjang badai
Kurangkai syukur menjadi karangan bunga
Satu persatu kuletakkan di setiap tonggak yang menancap dalam peta buta
Hidup hanya sekali, sudah kulakukan dengan gaspol di jalan sepi
manuverku pada jalan bolong dan sempal-sempal
Sampai kulihat Matahari baru bersinar terang memuaskan jiwa
Pasir diterjang ombak melewati kaki
Menyeret kenangan ke dalam laut
Dan kedua kakiku tak tergoyahkan
Gempa rindu itu mengendap tenang
Menjadi doa syukur dan sukacita melampaui nyanyian cinta
Terimakasih malaikatku
Yang mengajarkan caranya terbang
melintasi area yang tak kukenal
menuju tempat terbaik yang damai
air gunung yang melimpah
Udara pagi dingin dan langit yang cerah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar