Di ujung langit yang belum kusebut namamu,
aku meletakkan hati seperti kendi kosong
menadah embun pagi dari rahim semesta.
Wahai engkau yang kusebut bukan karena aku tahu,
tapi karena aku percaya:
ada jiwa yang ditiup dari arah yang sama
saat kami dilahirkan terpisah.
Aku tak meminta kau datang dengan gemerincing cahaya,
tapi dengan langkah perlahan
menapak tanah luka dan pengharapan.
Datanglah,
bukan karena aku telah sempurna,
tapi karena engkau tak takut pada ketidaksempurnaanku.
Bukan untuk mengisi kekosonganku,
tapi untuk berbagi limpahan yang sejak lama
dipelihara dalam cawan rahasia.
Mari kita duduk,
saling memandang seperti air kepada langit
seperti langit kepada air.
Aku menyebutmu, di heningku,
di lorong batinku yang sunyi
tempat Semar berdiri di tengah rawa,
tempat Keong Mas menembang mantram
Jika engkau mendengarku,
jika hatimu bergetar saat daun jatuh tanpa suara,
jika jiwamu menoleh saat matahari menengok ke barat
dan berkata: “Sudah saatnya...”
Maka datanglah.
Aku menunggumu,
tidak di puncak menara,
tapi di bawah pohon Bodhi,
di tepi mata air tempat bunga lili air mekar
bercerita tentang akar dan cahaya
silih asah silih asih silih asuh.
Di ujung langit yang belum kusebut namamu,
aku meletakkan hati seperti kendi kosong
menadah embun pagi dari rahim semesta.
Wahai engkau yang kusebut bukan karena aku tahu,
tapi karena aku percaya:
ada jiwa yang ditiup dari arah yang sama
saat kami dilahirkan terpisah.
Aku tak meminta kau datang dengan gemerincing cahaya,
tapi dengan langkah perlahan
menapak tanah luka dan pengharapan.
Datanglah,
bukan karena aku telah sempurna,
tapi karena engkau tak takut pada ketidaksempurnaanku.
Bukan untuk mengisi kekosonganku,
tapi untuk berbagi limpahan yang sejak lama
dipelihara dalam cawan rahasia.
Mari kita duduk,
saling memandang seperti air kepada langit
seperti langit kepada air.
Aku menyebutmu, di heningku,
di lorong batinku yang sunyi
tempat Semar berdiri di tengah rawa,
tempat Keong Mas menembang mantram
Jika engkau mendengarku,
jika hatimu bergetar saat daun jatuh tanpa suara,
jika jiwamu menoleh saat matahari menengok ke barat
dan berkata: “Sudah saatnya...”
Maka datanglah.
Aku menunggumu,
tidak di puncak menara,
tapi di bawah pohon Bodhi,
di tepi mata air tempat bunga lili air mekar
bercerita tentang akar dan cahaya
silih asah silih asih silih asuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar