Sabtu, 07 April 2018

Dingin Puncak Gunung

Mengigil
Tiba di puncak pada pagi dini hari
Luruh semua ingatan pengetahuan
Hanya ada aku dan semesta

Puncak sepi
Suara angin berdesir di telinga
Bersuara di antara daun-daun
Menabraki pasir dan batu-batu

Memandang ke kawah
Hati berdegup
Darah mengalir ke seluruh tubuh
Berdenyut-denyut di bawah kulit

Dingin puncak gunung
Merendahkan diri sampai lepas bebas
Kecil tubuh manusia seperti debu
Kisah hanya cerita dan kesombongan adalah cara berpikir persaingan

Sebesar apakah manusia dihadapan maha semesta?
Sebesar apakah manusia dihadapan angin puncak gunung?
Sebesar apakah manusia dihadapan kawah yang menyemburkan gas ke angkasa?
Sebesar apakah manusia wahai dingin puncak gunung?

Manusia tak lebih dari kumpulan sel-sel yang hidup membentuk jaringan, organ, dan sistem organ, jika tubuh tak dipenuhi dengan energi bernama pengetahuan, moral, dan kebenaran yang menggerakkan otot-otot, tulang, dan daging terbungkus kulit itu, dengan cara apa manusia pantas diperbandingkan, dipilih, dan dijual seperti yang manusia lakukan di pabrik-pabrik? 

Kenyamanan-kenyamanan diciptakan untuk membuat hidup dan perasaannya bertumbuh.

Kondisi dan tantangan-tantangan tercipta untuk menguji kesatuan dari energi dan tubuh.

Semua patut disyukuri dan dirayakan.
Hanya saja tentang kesombongan, sudah tidak sesuai dengan logika sejak manusia diciptakan.

Menggigil
Membersihkan ingatan sampai menyatu dengan alam bukanlah hal mustahil
Gunung, doa, dan pendakian ini tak berarti kalau tidak turun sampai di rumah dengan selamat
Pendakian tidak berakhir di puncak gunung dengan mati kedinginan atau terperosok masuk jurang
Dia memberi maknanya saat tubuh dan jiwa menyatu dalam kerendahan hati dan kasih murni seperti heningnya embun di kuntum bunga abadi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar